Unknown On 21/07/16


Selanjutnya. Re:Zero If Chapter Natsuki Rem part 2, di sini Rem agak menyinggung keputusan mereka melarikan diri dari Betelgeuse 8 tahun lalu. Meskipun sudah dikaruniai dua anak, Rem masih saja khawatir kalau suatu hari akan kehilangan Subaru, karena merasa itu adalah tindakan yang kurang tepat, untuk melarikan diri dan menyerah pada waktu itu. Tapi dan yah semua kekhawatiran Rem sirna oleh Subaru.

Diakhir chapter, Subaru bilang ingin melihat Rem yang berambut panjang. Saya sedikit penasaran apakah itu salah satu cara Subaru untuk melupakan Emilia, karena disana tertulis kalau dia memikirkan gadis berambut panjang, dia ingin Rem lah yang pertama kali muncul dipikirannya. Mungkin saja karena rasa bersalah terhadap Emilia akhirnya Subaru ingin melupakan semuanya. Termasuk tentang gadis berambut panjang. Hanya opini saya sih.

Dan juga saya sangat senang membaca interaksi keluarga Natsuki, terasa menyenangkan ketika membacanya, gimana sayangnya Rem terhadap Subaru, lalu Rigel yang sedikit nakal, ekpresi kasih sayang mereka kepada anaknya yang berbeda juga sangat menarik untuk dibaca. :D
Oke selamat membaca!!



If Chapter : Natsuki Rem

"Subaru-kun."

Mendengar namanya dipanggil, Subaru membuka matanya.
Melihat ke asal suara itu, dia mendapati Rem yang sedang menghadapnya. Dia bisa melihat dirinya sendiri di mata biru milik istrinya ketika mereka sedang berciuman tanpa kata-kata.

"..... Namaku."

"....."

"Itu sudah lama rasanya, akhir-akhir ini itu menjadi "sayang" atau "ayahmu"."

Melihat kearah Rem, Subaru merilekskan wajahnya. Namun Rem menciumnya sekali lagi.

Tingkah Rem mengingatkannya beberapa tahun lalu, saat Rem berada di posisi "ketika mereka baru saja melarikan diri". Rem berpikir kalau Subaru tidak menyadarinya, tapi ternyata Subaru mengetahui lebih dari yang Rem kira.

Menutup matanya, Subaru merasakan angin yang bertiup melewati mereka.

Perjalanan belanja hari ini adalah ide Rem. Subaru tau apa maksud Rem mengadakan perjalanan ini.

"Ini sudah delapan tahun sejak hari itu ya."

"Jadi kamu ingat semuanya...."

"Tentu, bagiku... Tidak, bagi kita bukankah hari itu adalah sebuah titik perubahan. Tidak mungkin aku akan lupa.
-Mana mungkin aku bisa lupa."

Di hari ketika dia kalah dengan takdir. Dihari ketika dia membuang semuanya. Dihari ketika dia lari dari semuanya. Dihari ketika dia berniat menyerah dari semuanya, tapi tidak untuk satu orang.

Keputusan di hari itu, cinta gadis itu... Karena semua itulah Subaru bisa hidup seperti saat ini.

"Subaru-kun, apa kamu...."

Cara memanggil yang familiar itu, dengan sengaja Rem berhenti menggunakannya setelah mereka melarikan diri ke Kararagi. Untuk membuktikan ikatan mereka sebagai suami istri kepada mereka sendiri dan orang-orang disekitarnya. Dan juga untuk membangun sesuatu yang berbeda dari masa lalu yang telah mereka tinggalkan.

Sampai hari ini pun Subaru tidak pernah menanyakan alasannya, Rem juga tidak pernah menceritakannya.

Ada banyak hal yang telah mereka tinggalkan bersamaan dengan cara memanggil itu. Dengan wajah yang susah dijelaskan dan berbagai emosi didalamnya Rem bertanya pada Subaru.

"Apa kau menyesal?"

"Menyesal?"

"Ya, karena telah lari. Karena telah menyerah. Karena telah membuang semuanya. Karena telah memilih....."

"Jika kau mengatakan sesuatu seperti memilih mu, aku akan marah. Aku akan membawa pergi Rigel dan Spica pergi dari rumah saat itu juga. Sebenarnya lupakan soal Rigel, dia bisa tinggal disini."

Dari kejauhan Subaru melihat Rigel membuat wajah yang masam. Tapi wajah Subaru berkata padanya "Kami punya pembicaraan penting saat ini" Subaru kembali melihat ke Rem, dan melanjutkan.

"Kau tahu, semuanya sudah terlambat hingga saat ini. Sejujurnya aku juga telah mengatakannya padamu berkali-kali, puluhan kali, ratusan kali, dan juga aku tidak tau jika ini bahkan belum cukup."

"Ya?"

"Aku mencintaimu lebih dari siapapun didunia ini. Kau satu-satunya bagiku, dan aku satu-satunya bagimu. Kau bukanlah tipe wanita yang bisa didapatkan oleh pria sepertiku dari cara menyerah dan berkompromi."

Subaru berpindah kedepan Rem dan memukul dahi Rem dengan lembut. Rem yang terkejut memegangi dahinya ketika Subaru mendekatkan wajahnya.

"Seperti yang kujanjikan dihari itu, segala yang punyai adalah milikmu juga, aku akan melayanimu, aku akan menyerahkan diriku padamu, aku akan hidup hanya untukmu... Dan sekarang aku rasa aku akan hidup untuk anak-anak kita juga."

Dengan bibir Subaru yang mendekati hidung Rem, Rem menutup matanya ketika Subaru menciumnya.

Saling berbagi ciuman, wajah Subaru berada cukup dekat hingga bisa merasakan nafas Rem yang semakin cepat. Dan dengan senyum nakal yang tidak pernah berubah seiring berjalannya waktu, Subaru berkata.

"Jadi apakah ini akan membuatmu lebih tenang?"

"..Rem minta maaf. Rem selalu merasa cemas. Rem semakin jatuh cinta kepada Subaru-kun. Setiap kali semua ini terasa tidak ada yang lebih membahagiakan lagi, Subaru-kun terus saja membuat Rem lebih bahagia lagi. Rem sangat bahagia, dan Rem sangat mencintai Subaru-kun, itulah mengapa Rem merasa cemas."

Air mata terbentuk dimatanya, dan dadanya bergetar ketika Rem mengaku kepada Subaru betapa bahagianya dia. Menggerakkan kepalanya, Rem mengistirahatkan dahinya pada dahi Subaru, dan mereka berbagi kehangatan tubuh mereka.

"Meskipun sekarang aku bisa menyentuhmu, aku selalu takut aku akan kehilanganmu."

"Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkanmu pergi, aku juga tidak akan pergi kemana-mana. Selama aku punya cintamu, tidak mungkin kita tidak akan terpisahkan."

"Rem tidak akan pernah berhenti mencintai Subaru-kun."

"Bagus, kita akan selalu bersama. Aku mencintaimu Rem."

Ketika kepala Rem dipenuhi dengan segala pemikiran dan perasaan, sekali lagi Subaru menciumnya. Bibirnya menyentuh gigi Rem ketika dia menyerang lebih jauh lagi si pelayan yang terkejut itu. Lidah mereka saling menjerat ketika mereka merasakan kehangatan air liur mereka.

Mereka berhenti dan memisahkan bibir mereka. Rem bernafas dengan perlahan ketika Subaru mengangkat tangannya dan melanjutkan.

"Juga, jangan katakan kalau ini semua adalah bentuk dari kompromi. Itu berarti Rigel dan Spica terlahir bukan dari cinta tapi dari rasa simpati. Spica adalah perwujudan dari cinta kita yang telah kita rencanakan bertahun-tahun. Sementara Rigel adalah hasil dari semangat berapi-api masa muda kita."

"Itu pasti berat bagi Rigel ketika dia lahir."

Didepan Subaru yang sedang menceramahinya dengan tangan di pinggang, Rem mengenang semuanya dengan senyum yang terbentuk diwajahnya.

Jauh di masa lalu, Rem mengibaskan jarinya seperti mengenang kembali memori itu.

"Setelah pindah ke Kararagi dan mendapatkan rumah serta pekerjaan, kita seharusnya menghabiskan waktu kita melakukan semuanya bersama dan membangun mata pencaharian kita."

"Hey tapi, kau tau, kita masih muda jadi kita tidak sabaran dan-"

"Meskipun Subaru-kun seharusnya sudah sangat capek setelah pulang kerumah dari tempat kerja, tapi kamu selalu bersemangat tepat sebelum pergi ke ranjang."

"Hey tapi, kau tau, kita masih muda jadi kita punya banyak stamina dan-"

"Ketika telah menemukan pekerjaan, Rem hamil di waktu yang sama. Di waktu itu wajah Rem berubah menjadi biru."

"Itu terasa menyakitkan untuk mengakui kesalahan yang kita buat di masa muda kita ...."

Sebagai balasan dari pernyataan blak-blakan Rem, Subaru hanya bisa menatap kejauhan sambil berkomat-kamit malu. Di kejauhan, Rigel yang dianggap sebagai "kesalahan" menunjukan muka masam, tapi dia bisa membaca suasanya dan menenangkan diri tanpa berkata apapun. [Benar-benar anakku] pikir Subaru.

Subaru mengangguk pada pertumbuhan luar biasa anaknya. Dibelakangnya, Rem juga melihat wajah masam anaknya, dengan nafas kecil dia melanjutkan.

"Tapi ketika Rem mengandung Rigel, Rem benar-benar bahagia."

"Well, tentu saja aku juga bahagia. Ketika pertama kali mendengarnya, aku merasa bingung dan sedikit kesal pada diriku sendiri. Lalu aku ingin memastikannya kalau itu bukan mimpi, jadi aku memintamu untuk memukulku, dan akhirnya tubuhku dipenuhi dengan darah."

Mungkin saja waktu itu Rem begitu emosional, tapi dia memukul Subaru dengan kekuatan penuh, hal itu menyebabkan Subaru menghantam dinding dengan kekuatan yang bisa membuat seluruh bangunan bergetar. Jika Rem secara tidak sadar tidak menahannya, itu akan jadi hal yang tidak aneh kalau Subaru mati seketika.

Lupakan saja memori itu, Subaru dapat dengan jelas ingat ketika Rem bilang kalau dia sedang hamil. Dia juga bisa dengan jelas ingat perasaan yang mengalir di dadanya waktu itu.

Namun, Rem menggelengkan kepalanya menanggapi jawaban Subaru. Subaru tidak benar-benar mengerti apa maksudnya itu, jadi dia memiringkan kepalanya sebagai balasannya.

"Alasan Rem bahagia sepertinya berbeda dengan alasan Subaru-kun. Alasan Rem bahagia adalah karena sekarang.. Sekarang Rem tidak perlu khawatir lagi kehilangan Subaru-kun."

"...."

"Bagi Rem, Rigel adalah ikatan yang nyata antara Rem dan Subaru-kun. Ini mungkin terdengar salah tapi ketika kita punya anak pertama kita itu juga berarti ikatan diantara kita akan selalu ada.. Itulah yang membuat Rem bahagia."

Mungkin Rem selalu berjuang melawan kekhawatiran ini.

Setelah membuang semua yang dia sayangi, hanya mereka berdua melarikan diri kesebuah tempat yang benar-benar baru. Tidak ada seorang pun atau apapun yang bisa dijadikan pegangan hanya mereka berdua saja. Rem selalu berjuang melawan ketakutan kalau saja suatu hari nanti dia akan kehilangan Subaru-kun.

Rasa percaya dirinya yang rendah bisa menjadi bukti kecocokan yang bagus dengan Subaru.
Bagi Rem, yang menilai dirinya dengan keras, hidupnya dengan Subaru terasa sangat bahagia sekaligus dipenuhi dengan kekhawatiran.
Lahirnya kehidupan baru diantara mereka akhirnya mengakhiri waktu yang tidak menyenangkan itu.

"Apa kamu sulit untuk mempercayainya?"

"Tidak, Rem percaya dengan Subaru-kun melebihi siapapun di dunia ini."

"Bukan itu, aku tidak menanyai mu apa kamu percaya padaku, aku bertanya, apa kamu mengalami kesulitan untuk percaya pada dirimu sendiri?"

Mendengar jawaban Subaru, Rem mengambil nafas pendek dan mengangguk.

Bagi Rem keberadaan Subaru sangatlah berarti, dan karena dia melihat dirinya sendiri tidak terlalu baik, dia khawatir keberadaannya hanya seperti bayangan kecil dibelakang Subaru.

--Akan tetapi, Subaru juga merasakan hal yang sama. Dia selalu merasakan itu. Dibandingkan dengan dirinya, Rem adalah gadis yang terlalu luar biasa baginya.

[Ini aneh, aku tidak tahu kenapa, tapi aku tertawa] Pikir Subaru sambil mengeluarkan seringai konyolnya. Rem melihatnya dan kemudian menggembungkan pipinya.

"Lupakan, Rem sudah dibodohi, tidak ada gunanya menertawainya.."

"Tidak, bukan seperti itu, aku pikir kita benar-benar mirip dan kupikir juga istriku adalah orang paling manis didunia ini."

Tidak siap dengan serangan kejutan Subaru, Rem hanya diam terkejut untuk beberapa saat dan lalu pipinya pun memerah.

[Melihat reaksinya yang seperti ini, aku memang benar-benar mencintainya] pikir Subaru
[Lebih dari siapapun didunia ini. Aku mencintai Rem, Aku mencintainya. Aku bisa meneriakannya keras-keras.]

Sebenarnya, pada kenyataannya Subaru kadang-kadang memang melakukannya. Oleh tetangganya mereka dikenal sebagai pasangan yang benar-benar saling mencintai.

"...Rigel, Spica"

"Hm?"

Rem terlihat seperti memanggil nama anak kesayangannya, namun dia menggelengkan kepalanya untuk mengatakan "tidak" lalu menghadap ke Subaru dan berkata.

"Mereka berdua adalah nama sebuah bintang kan? Dari tempat dimana Subaru-kun berasal. Begitulah bagaimana kamu memanggil mereka."

"Yeah, Ayahku pada dasarnya memang bodoh. Dia adalah orang menyedihkan yang jarang membaca. Tapi kurasa idenya untuk menamai diriku seperti sebuah bintang adalah sesuatu yang bagus. Aku benar-benar menyukainya. Nama "Subaru" ku juga diambil dari sebuah bintang di sana."

Ketika waktu SD dulu, ada sebuah tugas untuk mencari tau asal usul dari nama masing-masing, dan disitulah Subaru belajar tentang sejarah namanya. Setelah dia tau kalau namanya diambil dari sebuah bintang yang menari dilangit malam, dia sama sekali tidak bisa menahan kegembiraanya.

Sejak saat itu, ketika dia tidak tertarik dengan apapun, dia akan mulai menatap pada peta astronomi di waktu senggangnya. Dia tau banyak nama-nama bintang, ketika kesempatan untuk menamai sesuatu datang, sudah pasti dia akan selalu menggunakan nama-nama itu.

"Aku selalu menggunakan nama-nama bintang. Seperti Username di internet, aku selalu menggunakan nama-nama bintang sebagai nickname ku. Itu artinya, bukankah nama-nama itu bersinar?"

"Rem tidak mengerti apa yang Subaru-kun bicarakan, tapi menamai berdasarkan nama bintang terdengar indah. Ketika anak yang ketiga lahir, kita akan menamainya seperti itu lagi."

"Tidakkah terlalu awal untuk membicarakan anak ketiga? Maksudnya bukankah Spica masih bayi?"

"Selain memberinya makan, kita bisa menyerahkan semuanya pada Rigel. Kenapa kau pikir Rem harus menunggu Rigel sampai sedikit lebih dewasa sebelum kita punya bayi selanjutnya?"

"Kau tau, memang biasanya aku yang sering membully nya, tapi jangan terlalu keras padanya."

Memikirkan kekerasan verbal sehari-hari yang didapat anaknya. Subaru berdiri dan membersihkan dirinya, ketika Rem melihat kearahnya, Subaru sedang meregangkan punggungnya dan menggoyangkan pinggangnya.

"Kupikir ini sudah saatnya untuk pulang dan menaruh bahan makanan ini. Ditambah lagi ada terlalu banyak mata disekitar sini yang bermain-main dengan isi hatiku."

"Ya, sekarang Rem juga sedang mood untuk bermain-main dengan seluruh kekuatan serta semangatnya."

"A-aaku penasaran, apakah Libido ku bisa mengimbangi stamina dari seorang iblis."

Menggerutu pada dirinya sendiri, Subaru mengulurkan tangannya pada Rem. Duduk di bangku taman, Rem menggapainya dengan perlahan, tapi Subaru secara tiba-tiba menariknya keatas. Rem membuat suara "Wa!" Ketika Subaru dengan mahir menangkapnya menggunakan lengannya. Subaru memeluk Rem sekaligus Spica dan merasakan kehangatan mereka.

"Oke. Ayo kita kembali. Kembali kerumah kita."

"Ya, sayang."

Memegang bahan makanan di tangan satunya, dia menggenggam tangan Rem ditangan lainnya. Berjalan setengah langkah dibelakang Subaru, Rem mendekatkan dirinya pada Subaru ketika mereka berjalan.

"Hey, anakku yang membeku dalam keabadian di dunia musim dingin. Melihat permainan "freezing tag" mu yang tidak berkembang sama sekali, kami benar-benar merasa bosan jadi kami akan pulang kerumah. Menginaplah dirumah temanmu untuk malam ini."

"Jadi kau mengusirku dari rumah malam ini? Ditambah lagi, orang tua macam apa yang datang ke taman di siang bolong begini hanya untuk berciuman?"

"Ha. Kau pasti cemburu. Maaf Rigel, Rem hanya miliiku seorang."

"SUNGGUH MENGANGGUUU!!"

Ketika Subaru tertawa keras dengan kepala menengadah keatas, Rigel berteriak dengan wajah seperti setan. Tapi melihat ayahnya hanya akan mendapat lebih banyak kesenangan. Rigel mengambil nafas dalam dan menggelengkan kepalanya.

"Tenang.. Tenanglah diriku. Jangan terjebak dengan permainan orang tuamu. Tenang.. Tenang.. Oke, aku sudah lebih tenang, jadi apa yang kau bicarakan dengan ibu?"

"Oh? Kami berbicara tentang namamu yang diambil dari nama bintang dan sesuatu seperti itu. Kau tau, ide pertama kami, kami ingin menamaimu "Vega"."

"Itu terdengar sangat kuat. Kenapa tidak menggunakan nama itu?"

"Well, itu terdengar kuat kan? Seperti kau akan tumbuh menjadi benar-benar kuat dan terlalu kuat untuk mengatasi masa-masa memberontakmu. Jadi aku memutuskan untuk menentangnya. Meskipun pada akhirnya kau akan melebihi kekuatanku, ayahku berkata dia tidak ingin kalah dengan anaknya terlalu cepat."

"Kau memikirkan semua itu hanya untuk bayi yang baru berusia beberapa hari?"

Rigel berusaha memukulnya setelah mendengar olok-olok Subaru, lalu...

"Hey, Rigel bergerak!! Kau telah melanggar peraturan permainan "Freeze tag"."

"Ah!"

Meskipun mengabaikan dia sepenuhnya ketika dia sedang "membeku", anak-anak lainnya dengan cepat mengetahui kesalahannya saat kedua kalinya dia bergerak. Rigel terkejut sambil berdiri diam disana. Subaru menepuk punggungnya dan berkata.

"Orang yang melanggar peraturan permainan "Freezing Tag" akan mendapatkan penalti. Kau akan digelitiki oleh anak lainnya sampai kau tidak bisa menangis lagi. Semoga beruntung."

"Apa-apaan yang kau katakan itu dengan wajah serius seperti it..... Hey kalian mau apa teman-teman? Berhenti dulu! Jangan mendengarkan semua yang dikatakan oleh orang itu. Uwaaaaa!!"

Sekelompok anak mendatangi Rigel dan mengejarnya. Rigel mencoba untuk melarikan diri tapi mereka bisa memojokannya. Dari sana mereka memegang lengan Rigel dan menjatuhkannya ke tanah. Dengan tidak ada kesempatan untuk melawan jari-jari yang tidak terhitung jumlahnya mulai menggelitikinya.

"Lama sekali nak. Kau adalah anak yang baik, ayahmu lah yang buruk."

"Rigel, ibumu dan ayahmu punya beberapa urusan penting yang harus dilakukan, jadi tolong menginaplah di rumah temanmu malam ini. Dan juga menggunakan tandukmu itu dilarang, dan juga jangan biarkan bajumu kotor."

"A-aku akan mengingat ini, dasar orang tua tak punya perasaan."

Ketika sekumpulan jari-jari menggelitiki dirinya tanpa belas kasihan, tawa keras Rigel dapat terdengar bahkan dari kejauhan. Melihat keadaan kakaknya seperti itu, Spica mengeluarkan suara yang terdengar gembira.
[Well, sepertinya dia punya selera yang menjanjikan] pikir Subaru
[Posisinya di keluarga ini pasti akan menjadi lebih menarik]

Untuk anak tercinta mereka yang sangat mereka sayangi, mereka menunjukan cara pengungkapan rasa cinta yang tidak biasa dihari itu.

Subaru menarik tangan Rem ketika dia berjalan.
Menuju tempat yang berharga dimana keluarga mereka tinggal. Tempat yang dipenuhi dengan kedamaian dan kebahagian yang mereka sebut rumah.

"Subaru-kun."

"Hm?"

Merasakan tarikan ditangannya, Subaru berhenti berjalan dan menghadap Rem.

Disaat itu, hembusan angin yang kencang berhembus kearah mereka, Subaru menutup matanya sebagai responnya, dan membuka matanya kembali ketika angin telah berhenti berhembus.

Rambut biru Rem tertiup angin, berkilau dengan indah seperti menyatu dengan sinar matahari. Beberapa saat yang lalu, Rem mulai memanjangkan rambutnya. Untuk siapa dia memanjangkannya, tentu saja karena ide Subaru.  Dan saat dia memikirkan wanita berambut panjang, yang pertama kali muncul dipikirannya pasti orang yang ada dihadapannya, orang yang paling dia cintai diseluruh dunia ini.

Dengan rambut biru panjang yang berkibar dibelakangnya, dan anak tercintanya yang sedang digendongnya Rem mengejar Subaru dengan senyum lebar diwajahnya.

Diatas segalanya, itu adalah senyum Rem yang diisi dengan kebahagiaan dan cinta untuk Subaru.

"Sekarang ini, Rem adalah orang yang paling bahagia di dunia ini."



---End of If Chapter---

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments