Unknown On 21/07/16


Hello Semua, Maaf saya jarang update berita Otaku dan update Anime, Kali ini Saya datang kembali dengan translate LN, dan kali ini adalah translate dari LN Re:Zero. Yah sebenarnya ini bukanlah termasuk dalam jalan cerita asli LN nya, ini hanyalah side story atau bisa juga disebut alternatif ending dari Re:Zero. Chapter ini ditulis secara official oleh sang Author Nagatsuki Tappei sendiri. 

Chapter ini mengambil setting setelah pertarungan dengan Betelgeuse. Yang nonton Episode terbaru Re:Zero pasti tau siapa dia. Btw Re:Zero Episode 15 bener-bener epic menurut saya, feelnya dapet, berasa nonton anime ber genre tragedy, apalagi pas Subaru menggendong mayat Rem lalu kepalanya copot didepan Mansion. Duh.. Bener-bener tragedy deh.

Nah Chapter ini adalah alternatif ending dari arc 3 Re:Zero ini, ini adalah apa yang akan terjadi jika Subaru menyerah saat melawan Betelgeuse, meninggalkan Emilia dan memilih untuk hidup bersama Rem. Sangat dianjurkan untuk membaca chapter ini setelah arc 3 berakhir.
Oke, selamat membaca!!




If Chapter : Natsuki Rem

Dibawah langit yang bersinar, Subaru menyipitkan matanya menatap sinar matahari yang begitu terang.

Sebuah tangisan yang memekanan telinga pun terdengar.
Itu adalah milik seorang bayi kecil, tangisannya dipenuhi dengan seluruh tenaga yang dimiliki oleh tubuh kecilnya.

Melihat ekspresi tidak nyaman dari gadis itu yang dikeluarkan oleh seluruh jiwanya. Subaru berpikir bagaimana anak sekecil itu bisa punya energi sebegitu besarnya.

Dan ketika memikirkan hal itu, dia merasa ngeri bagaimana pemikirannya yang telah berubah menjadi dewasa.

"Aku akhir-akhir ini merasa semakin tua, itu terasa sangat suram ketika aku menyadari hal itu. Bukankah aku masih menjadi anak muda yang sangat bersemangat?"

"Anak muda yang sangat bersemangat ndasmu? Cobalah lihat dirimu sedikit lebih objektif lagi."

Ketika dia mengepalkan tangannya dengan dramatis, Subaru dihaujani dengan kata-kata celaan. Sudah terbiasa dengan pelecehan verbal, dia mendesah pelan dan melihat di sampingnya. Seorang anak laki-laki muda berdiri disampingnya. Matanya setara dengan posisi duduk Subaru. Mengabaikan tatapan Subaru, anak itu menambahkan..

"Ngomong-ngomong, cepat lakukan sesuatu terhadap Spica. Tangisannya benar-benar membuatku kesal."

"Tidak, aku sudah tidak sanggup melakukan apapun lagi. Setelah mendengar kata-kata kasarmu barusan, hatiku yang polos terasa tercabik-cabik sepenuhnya! Mungkin aku akan kembali ke masa kecilku dan menangis disamping Spica. Tolong maafkan ayahmu yang tidak berguna ini."

"Siapa yang mau memaafkan orang dewasa yang bertingkah seperti itu di siang bolong begini?"

Anak itu menjawab ketus terhadap rengekan Subaru. Ketika dia berteriak, bayi perempuan yang berada di gendongannya, Spica mengambil nafas panjang. Saat kedua laki-laki itu melihat dengan pasrah, tangisan bayi itu meledak kembali.

"UWAAAAAAAAAA!!"

"Whoa! Dia menangis. Spica menangis lagi. Hey Rigel lakukan sesuatu sialan! Kau kan kakaknya."

"Jika memang itu cara mainmu, seharusnya kau lah orang yang harus melakukan sesuatu."

Diantara kepadatan kota, di sebuah jalan, dua orang tak henti-hentinya saling melempar tanggung jawab untuk menenangkan bayi tersebut.

Orang-orang dikota sesekali menoleh untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, melihat ada dua badut disana lalu mereka meneruskan berjalan dan menghiraukan mereka dengan wajah yang berkata "oh, mereka lagi, sudah biasa."

Sebagai hasilnya, adegan bayi yang menangis sampai lelah, dan dua orang pria yang membuatnya menangis, terus berlanjut.

"Bayi ini menangis dengan seluruh udara di paru-paru serta jiwanya, dan tidak ada seorang pun yang datang membantu... Siaal!! Sungguh dunia yang kejam dan tidak berperasaan! Rasa kemanusiaan telah jatuh terlalu dalam."

"Kita tidak punya waktu untuk keluh kesahmu terhadap kondisi dunia ini... Jika kita tidak bisa menghentikan tangisan Spica ketika dia kembali, coba pikir apa yang akan dia katakan?"

"Siapa yang kembali, dan apa yang akan mereka lakukan?"

"Sudah pasti, itu adalah....."

"Rigel." Subaru memanggil saat ditengah-tengah perdebatan mereka. Menganggukan kepala mereka bersamaan. Rigel yang menengok pertama. Dia menatap dengan kosong, rahangnya terbuka. Subaru mengikuti melihat kearah yang sama.

"Hey, sudah selesai belanjanya?"

"Ya, tanpa hambatan. Sepertinya kalian mengalami keadaan yang sulit."

"Nah, Spica sangat bersemangat hari ini. Ketika dia mulai bisa berjalan dan berlari dia akan tumbuh menjadi tipe gadis yang mengejar pria disekitarnya denga semangatnya yang gila. Masa depan yang seperti itu membuatku merasa gelisah sekaligus tertarik."

Saat Subaru mengoceh begitu, Spica yang berada di gendongannya berlahan membuka matanya dan menyadari wanita yang berdiri didepannya.

Meskipun dengan tubuh bagian atasnya yang lemah, Spica membuka tangan kecilnya dan mengulurkan tangannya mencoba menjangkau wanita itu. Mengetahui keinginan Spica, Subaru merasa sedikit kesepian.

"Well, mengabaikan keinginannya sampai dia menangis hanya akan membuat kita kembali lagi dari awal. Ini, ambil dia."

"Aku memang ingin mengambilnya."

Meskipun perkataannya kasar, Subaru menyerahkan bayi itu dengan lembut dan penuh perhatian. Dia memeganginya seperti memegang sesuatu yang berharga, layaknya sebuah harta, hal tersebut membawa sebuah senyuman kecil di wajah wanita itu.

Wanita itu memeluk bayi itu di dadanya dan menggendongnya dengan hati-hati.

"Yaa, mereka memang ayah dan kakak yang tidak berguna kan? Spica harus cepat tumbuh besar agar bisa mengomeli mereka."

"Oi oi oi, jangan mempengaruhinya seperti itu, ketika dia belum memahami kata-kata. Oke??"

Subaru tiba-tiba membayangkan sedang dimarahi oleh dua wanita di kedua sisinya sambil berkacak pinggang, ketika dia bicara atau melakukan sesuatu yang bodoh.

"Hmm, sebenarnya itu terdengar tidak terlalu buruk, faktanya itu seperti masa depan bahagia yang aku dambakan."

"Well, aku tidak menyukainya. Dimarahi oleh adik sendiri akan menjatuhkan martabatku."

"Ha!! Saat ada orang melakukan hal-hal bodoh bersamaku, mereka sudah tidak punya martabat untuk dijatuhkan... Ya ya.. Aku bisa melihatnya. Kau akan sangat  menyayangi adikmu dan bahkan terlalu memanjakannya, sampai pada titik dia akan memarahimu tanpa belas kasihan. Seperti itulah masa depanmu."

"Jangan memaksakan masa depan yang aneh kepadaku, hanya karena kau sering dimarahi. Tidak mungkin aku akan menjadi seperti itu."

Subaru mengibaskan jarinya untuk mengejek balasan Rigel, tapi bukan berarti Subaru terganggu oleh raungan anak itu.

Itu adalah wanita berambut biru yang telah menyaksikan ocehan mereka. Dengan suara tenang yang tajam, wanita itu memanggil nama anak itu.

"Rigel, bahasa macam apa yang kau pakai di tempat umum begini? Itu bisa membuat ibumu menangis."

"Yaa, tapi...."

"Ibumu juga tidak suka kata-kata "Yaa tapi.." Lagipula apa yang kamu katakan itu memang keliru."

Wanita itu tanpa ampun memarahi Rigel yang tergagap. Dia lalu melihat kearah Spica yang akhirnya bisa tenang, dan tersenyum kecil.

"Ibumu tidak akan memarahi ayahmu. Ayahmu akan selalu menjadi orang nomer satu yang ibumu sukai."

Pipinya memerah. Dia telah mengucapkan kata-kata bahkan lebih memalukan daripada menangis didepan umum.

Melihat ibunya yang dengan bangga membuat pernyataan seperti itu, Rigel akhirnya melilitkan diri kedalam handuk.

Subaru tertawa dengan gugup ketika wanita yang memperhatikan keluarganya sangat bahagia saat Subaru mengusap rambutnya.

Seperti bagian dari birunya langit, rambut biru panjang nan cantik Rem berkilau dengan indah ketika tertiup angin.




XxxxX


Di sebuah kota kecil di negeri Kararagi, di suatu tempat yang mungkin bisa disebut sebagai taman, Subaru duduk di bangku terdekat.

Seorang anak laki-laki berambut biru pendek bernama Rigel sedang bermain dengan riang bersama teman-temannya. Saat dia berbicara dengan ayahnya memang kasar, tapi Subaru berpikir di saat-saat seperti ini dia sebenarnya terlihat seperti anak yang menggemaskan.

"Sekarang, andai saja kita bisa melakukan sesuatu terhadap matanya yang terlihat seperti dia bisa membunuh seseorang."

"Kita tidak bisa melakukannya. Mata yang menyeramkan itu juga bagian dari Rigel. Tidak peduli betapa bahagianya dia, orang asing akan selalu melihat matanya dan berpikir dia sedang dalam bad mood atau dia semacam anak yang nakal. Seperti itulah Rigel."

"Aku bisa mendengar kalian, dan juga kenapa kata-kata ibu lebih menyakitkan daripada kata-kata ayah?"

Rigel sedang bermain "Freeze Tag" (Di Jepang disebut Ice Oni) sebuah permainan yang baru-baru ini di populerkan oleh Subaru. Karena dalam posisi "membeku" Rigel hanya bisa berbicara dari kejauhan. Subaru melambaikan tangannya sembarangan sementara Rem melambaikan tangannya dengan lembut agar tidak membangungkan Spica.

Rigel menggembungkan pipinya dan mengerutkan wajahnya sambil menoleh. Di saat seperti itu Subaru pasrah dan berpikir Rigel melakukan hal yang sama dengannya di masa kecilnya.

"Dengan kata lain, sudah menjadi jaminan dia akan menjadi seperti aku, jika aku adalah dia aku pasti akan menyangkalnya kalau dibilang seperti itu oleh diriku yang dua puluh tahun lebih tua."

"Punya keahlian memasak dan sempurna dalam pekerjaan rumah tangga, mendukung suaminya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Punya istri idaman dan luar biasa seperti itu... Apakah seperti itu hal yang kamu maksud?"

"Siapa orang yang sangat beruntung itu? Dia harusnya meledak saja. Huh? Tunggu itu aku!!"

Rem tertawa kecil saat Subaru memukul kepalanya dan menjulurkan lidahnya. Rem mencoba untuk menenangkan dirinya dengan membersihkan tenggorokannya, lalu melihat wajah Subaru.

"Jika kamu terus memuji Rem seperti itu, Rem bisa saja terbawa suasana."

"Hm? Apa aku benar-benar memujimu tadi? Yang kulakukan hanya membenarkan apa yang kamu kamu katakan. Meskipun yang kamu katakan memang kenyataannya sih."

Subaru tau kalau dia memujinya terlalu bebas, dia akan terbawa suasana dan memujinya lagi dan itu akan jadi masalah. Di tempat umum seperti taman dimana anak-anak berlarian, orang tua dan tetangga dimana-mana.

Sekali dia berbicara manis dengan Rem, Rem akan terus membalasnya sampai kemesraan mereka akan menjadi buah bibir de keesokan harinya.

Itu sepertinya tidak terlalu buruk baginya, Subaru memikirkannya sambil menikmati udara hangat di siang hari.
Jika dia menutup matanya, kenyamanan dari sinar matahari akan membuatnya seperti melayang, kepenatan setelah hari-hari kerja yang panjang seperti menghilang begitu saja ketika kepalanya terasa berat.

"Hm?"

"Jika kamu mau, kamu bisa beristirahat di bahu Rem, pangkuan Rem saat ini sudah di kuasai."

Membuka matanya, Subaru mendapati dirinya sudah beristirahat pada Rem. Ada perbedaan yang terlihat dari ketinggian duduk mereka. Tapi jika Subaru menyesuaikan posisi lehernya, Subaru bisa mengistirahatkan kepalanya dengan nyaman di bahu Rem.

Ketika dia bersandar, dia bisa melihat Spica yang tidur dengan tenang di lengan Rem. Rambut hitam yang didapat dari ayahnya, bentuk wajah yang manis dari ibunya. Sebuah keberadaan yang mereka sayangi yang telah hidup dari ke hari mengabaikan dunia disekitarnya.

"Grrr.. Spica, kamu adalah anakku, beraninya kamu mencuri tempat berhargaku dariku? Aku akan memberi hukuman gelitikan nanti."

"Sayang, tolong tunggu sampai malam hari sebelum menguasai dada Rem."

"Hey, hati-hati dengan perkataan yang kita buat di tempat umum pada saat siang bolong begini, okay?"

Komentar tegas Rem membuat Subaru panik, tapi ketika Subaru melihat kewajah Rem, dia melihat wajah Rem yang memerah. Benerah sekarang nih, dia pikir.

"Istriku memang sangat manis."

"Itu karena Rem dicintai oleh suaminya setiap hari."

Subaru dan Rem saling menggoda, mereka dimanjakan dengan senyum kasih sayang satu sama lain. Cekikikan Rem dan tawa konyol Subaru dapay terdengar dari kejauhan.

Alhasil dengan perasaan malunya, Subaru dengan grogi menggaruk pipinya.

"Well, aku pikir aku akan menerima tawaranmu." Kata Subaru sambil mengistirahatkan kepalanya di bahu Rem.

Sensasi dari angin yang meniup rambut biru Rem mengenai pipinya terasa sangat nyaman bagi Subaru. Bau wangi juga tercium oleh hidungnya ketika Subaru menggosokan pipinya ke bahu Rem.

"Sayang, itu geli."

"Oh maaf, aku pikir aku sedikit terbawa suasana karena ini terasa sangat nyaman. Aku akan belajar dari Spica dan kemudian diam. Aku akan meninggalkan sifat terbawa suasana ini kepada Rigel. Wow, Rigel anak yang nakal."

"Aku bisa mendengarmu ayah bodoh!! Berhenti membawa-bawa namaku."

"Rigel, adikmu sedang tidur, tolong pelankan suaramu."

"SIALAAAN!"

Rigel yang sedang "membeku" berteriak seperti seorang anak nakal. Tapi tidak ada keluarganya yang merespon. Ditambah lagi tidak ada seorang pun yang datang untuk menyelamatkannya. Disaat seperti ini, Rigel benar-benar dikerjai.

Kepribadian Rigel, bicaranya, tingkahnya, mirip dengan Subaru. Itu membuat Subaru senang setidaknya anak-anak yang lain tidak membully nya. Di saat yang sama pula, mereka tidak menerima Rigel menjadi salah satu dari mereka, hal tersebut membuat masa depan Rigel tidak terlalu cerah.

"Kita harus memastikan Spica tidak menjadi seperti itu. Meskipun Rigel seperti itu, kamu punya wajah cantik ibumu, jadi masa depanmu pasti cerah. Satu-satunya hal yang tersisa adalah berdoa supaya kamu tidak terlibat dengan pria tak berguna sepertiku."

"Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikanmu, suami Rem adalah satu-satunya didunia ini."

Subaru tertawa kecil karena kata-kata manis istrinya, kesunyian yang nyaman tercipta diantara mereka. Angin sepoi-sepoi membela mereka dengan lembut ketika Subaru menikmati kehangatan tubuh Rem. Alhasil itu membuatnya mengantuk.

Akhirnya, rasa capek karena bekerja masih tersisa ditubuhnya. Tapi momen berharga yang dihabiskan bersama keluarganya membuat hari-harinya terisi dengan kebahagiaan. Bermandikan sinar matahari yang cerah, melihat anak laki-lakinya sedang dikerjai oleh teman-temannya, Subaru yang beristirahat pada istrinya akhirnya tergoda untuk tidur.
-Sungguh saat-saat yang membahagiakan, pikirnya.


---End of part 1---

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments